Kemudahan Masa Depan yang Ambyar

Bisa tidak kita hidup sederhana saja? Lapar ya makan. Ngantuk ya tidur. Jatuh cinta ya langsung saja bilang sayang. Bisa tidak kita hidup jujur dan transparan? Bisa tidak kita hidup tanpa (((KPLSWN)))? Jawabannya jelas: TIDAK. Salah satu yang membuat manusia –minimal saya, tidak bisa hidup dengan sederhana adalah ketidakpastian. Yang kedua adalah obsesi atas kemudahan. […]

Reporting Disaster

I -as myself, hate disaster. I guess everyone does. Disaster is a mess, unpredictable, and awful thing in this world. That’s why we call it disaster. I -as a reporter, hate disaster. I hate to report about it. I hate when I ask sourchers about it. I hate when they think I get money for […]

Fanaticism Brings Us to Death

We may scare, but we have power to fight it with laugh and tolerate. Not with anger. Friday noon, Syarif, Fais, Toni and I were in Score Coffee Shop. They talked about Buku Buleck, their online book store. Then I said “There were live shooting in New Zealand, 49 died!” I knew this from Kumparan.id’s […]

The Man in Pandanwangi Train

Train is my favorite public transportation. I remember my first trip. I went to Bandung by train. I never forget the way conductor holed the pink, thick, little ticket. The vendors passed by. The mixed smell of sweat, smoke, food, and chiken shit. Even the signature aroma of the toilet. Hmm~ magnificent! Now days, this […]

I Should Start Write in English

I am a dreamer. That is why I sleep often. I am a dream breaker. I make my dream not dream anymore. This is the reason why should I start write in English. Well, I do not have rich family who paid me for super expensive English Courses. They do not even support me to […]

Lapar Membunuhmu

Saya lapar. Perut keroncongan karena sehari lalu hanya makan sekali. Siang itu selepas bangun tidur, saya mengisi penanak nasi dengan air, lalu mencolokannya ke listrik. Saya mau masak mie instan. Ya, betul! Saya masak menggunakan penanak nasi karena di kontrakan tidak ada kompor. Saya ingat betul, Indomie Goreng tinggal satu. Satu untuk seminggu ke depan. […]

Mencurigai Cak Kandar

Ia bernama Kusnandar. Pegiat seni di Jember biasa menyebutnya Mas Boy. Sedangkan pegiat pers menyebutnya Cak Kandar. Ia populer. Melebihi saya. Melebihi koboi kampus atau primadona junjungan umat. Tidak ada mahasiswa yang bisa menandingi popularitasnya. Tak ada yang tahu persis usianya. Paruh baya, saya tebak. Rambut cepak. Gigi tak rata. Keningnya lebih lebar dari ukuran […]